Kamis, 31 Januari 2013

Merapi: Menuju Perjalanan



Sudah lama saya tidak bercanda dengan alam, hingga akhirnya saya memutuskan ikut kawan lama untuk melakukan pendakian kecil ke Merapi. Merapi, salah satu gunung teraktif di Indonesia. Tahun 2010 lalu, dia memperlihatkan kegagahannya. Setidaknya 165 korban jiwa meninggal dunia dalam perstiwa itu. Saya pun sempat bergidik ngeri membayangkan saya akan melakukan pendakian kecil kesana.


"Kita niatnya cuman jalan - jalan ya, enggak ngoyo sampai puncak. Karena kondisi cuaca sedang nggak menentu. Dan kita juga enggak ngedome, tik tok aja alias naik langsung turun lagi..", SMS dari Mas Oki. Dia teman saya kuliah dulu, dan tergabung dalam mapala yang sama dengan saya. Bedanya dia petualang, saya pupuk bawang. Hahahaha :p

Karena tidak menginap, saya pun santai. Tidak membawa tenda, juga tidak membawa sleeping bag. Saya hanya membawa satu buah jaket tebal, satu sweater, raincoat, kaos kaki & kaos tangan double. Untuk persiapan fisik juga tidak ada, hanya kebetulan satu minggu saya rajin lari pagi sekitar dua sampai empat kilometer setiap harinya. Dan ternyata cukup membantu saat pendakian :)

Kami akan mendaki dari Selo, desa terakhir yang berjarak 5 km dari puncak Merapi. Letaknya di Kabupaten Boyolali. Dari Jogja, saya memilih naik kereta api menuju Solo. Sebenarnya lebih simple naik bus, tinggal turun di Terminal Kartosuro lalu loper ke Terminal Boyolali. Sayang saya ragu, saya memilih naik Kereta Pramex Jogja - Solo pukul 13.20 dan berhenti di Stasiun Solo Balapan, stasiun terdekat dari Terminal Tirtonadi. Dari stasiun menuju Terminal Tirtonadi saya menumpang becak seharga 12ribu rupiah, saya sebenarnya bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah. Tapi saya memutuskan untuk tidak menawar harga karena saat itu sedang hujan.

Stasiun kota Yogyakarta
Terminal Tirtonadi
Terminal Tirtonadi ini entah sejak kapan menjadi terlihat keren, saya takjub. Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke terminal ini. Kenangan pulang kampung bersama ibu ke Madiun setiap kali lebaran beberapa tahun lalu tiba terbuka kembali. Saya hampir menangis ketika teringat Bapak saya melepas saya dan ibu di terminal ini. Bapak saya hanya mengantarkan kami dari Ungaran sampai Solo. Selanjutnya Solo ke Madiun, saya hanya berdua dengan ibu. Tirtonadi mengingatkan saya untuk lebih bersyukur, karena beberapa tahun terakhir saya dan ibu sudah tidak perlu lagi naik bus ekonomi untuk sekedar pulang kampung.

Setelah meeting point di Terminal Bus Sunggingan, kami bergegas menuju Selo. Membeli logistik, mengisi perut, dan sekedar bercanda tawa disepanjang perjalanan. Kami mampir juga di salah satu toko gear yang khusus menjual alat – alat penunjang pendakian, untuk membeli headlamp. Bukan headlamp yang kami temui, tapi justru kawan lama sesama pendaki yang sudah hampir empat tahun ini tidak berjumpa. Ya, tidak semua pertemuan diakhiri dengan perpisahan. Terkadang, Tuhan menakdirkan kita untuk berjumpa kembali.

Lawu dari kejauhan, perjalanan menuju Selo
Kami berdelapan, dan saya baru kenal satu sama lain dengan mereka, tapi kami bisa begitu akrab seperti kawan lama yang baru bertemu kembali. Alam menyatukan kami dalam manisnya ikatan persahabatan.

Pukul 19.45 kami tiba di Basecamp Bara Meru Merapi. Diluar dugaan saya, basecamp cukup ramai oleh para pendaki. Berjejer dengan rapi dan dibalut sleeping bag berwarna gelap, sebagian dari para pendaki tersebut terlihat kelelahan dengan wajah yang mulai memerah. Iya, mereka baru saja turun dari pendakian Gunung Merbabu, dan akan melanjutkan perjalanan ke puncak Merapi esok harinya. Saya sendiri nggak bisa membayangkan bagaimana capeknya mereka. Hehe.


Kami ber-packing ulang. Perempuan yang ikut dalam rombogan saya hanya dua orang, saya dan Niyas. Ke enam sisanya adalah laki - laki tangguh yang berperan sebagai porter, hehe. Tiga puluh menit berlalu, kami mulai bergegas menuju New Selo. Lima belas menit berjalan sudah cukup untuk pemanasan, kami mampir sebentar di New Selo karena ada rombongan pendaki lain yang memanggil kami. Mereka sekitar ber-duabelas. Menggelar tenda, sambil bernyanyi diiringi dengan petikan gitar untuk mengusir dinginnya malam itu.

"Bang, punya remote AC nggak? tolong dong AC-nya dimatiin. Saya kedinginan ini.." Celetuk salah seorang dari mereka. Saya lupa namanya, mereka terlalu banyak. Kami dibuat tertawa dengan celetukan itu, ya tentu saja. Udara sangat dingin, angin juga mulai bertiup kencang.

Rombongan yang saya temuni di New Selo ini datang dari Banten dan ada yang datang dari Pulau Sumatra. Saya cuman mikir, ngapain ya jauh - jauh dari pulau seberang cuman buat buka tenda dan bercapek ria berjalan menyusuri jalan setapak di Merapi. Mana musim hujan, dan cuaca nggak menentu begini. Sejenak saya berkaca pada diri sendiri, saya bertanya kepada diri saya sendiri. Ah, ternyata saya melakukan hal yang sama. Dan saya mentertawakan diri saya sendiri sambil meringis geli. Sekali lagi, mereka berduabelas yang baru saja saya temui seperti kawan lama yang baru berjumpa kembali, manis sekali menikmati malam itu bersama banyak kawan lama yang baru saja dikenal :)

20.33 kami berdoa bersama sebelum melanjutkan perjalanan. Hembusan angin yang semakin kencang dan dingginya udara malam itu tidak meredam semangat kami untuk terus berjalan. New Selo menjadi titik awal pendakian kecil kami.

Merapi, saya datang! Saya melangkahkan kaki sembari berkata dalam hati, percayalah bahwa kamu bisa melewatinya ren..

*bersambung dulu, yaa..

3 komentar:

  1. ditunggu sambungannya...
    dedlen sebelum hari minggu ya hehe

    aku juga pernah dibilang konyol sama pendaki yg berpapasan

    BalasHapus
  2. ditunggu sambungannya...
    dedlen sebelum hari minggu ya hehe

    aku juga pernah dibilang konyol sama pendaki yg berpapasan

    BalasHapus
  3. Keinget 2009 ke Merapi dan mampir ke rumah Alm mbah Marijan mbak :-)

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')