Jumat, 15 Februari 2013

Bandung Semalam, Berkelana di Bosscha

Sore hari sebelum naik kereta, bikin beginian. Banyak banget tujuannya :))
Bulan Oktober tahun lalu, saya diberi kesempatan mengejar harapan di Kota Kembang, Bandung. Ceritanya sambil menyelam minum air, saya sebentar jalan – jalan ke Observatorium Bosscha di Lembang sana. Dengan ndak mikir panjang, saya keluar dari penginapan di Jalan Soma, Kiara Condong pukul 08.30, padahal belum ada dua jam saya tiba di Bandung. Saya juga belum mendapat email balasan dari pengelola Bosscha, kapan saya diijinkan untuk berkunjung kesana, ah nekat saja pikir saya. #BFact hehe :p


Pun, saya ndak punya kenalan di Bandung. Teman – teman yang kuliah di Bandung sudah pada merad, saya juga buta jalan di Bandung sana. Kali pertama saya benar – benar menelusui seujung jari Bandung kala itu, sendirian. Berbekal peta, sakleknya koneksi internet yang menyokong hidup Urushi saya, dan dipandu Mas Andang. Saya berkelana, walau itu bukan tujuan utama saya di Bandung. Benar – benar lost focus, hahahaak! :p Bertanya. Saya cuman bisa nanya, nanya sama internet, nanya sama orang – orang yang sudah pernah melewati harinya di Bandung, nanya sama malaikat – malaikat baik hati yang saya temui di jalanan. Tips yaa, kalau nanya sama orang usahakan nanya minimal ke dua orang yang berbeda, buat antisipasi kalau – kalau disasarin, atau setidaknya buat hati benar – benar yakin kemana arah selanjutnya.

Dari Jalan Jandral Ahmad Yani saya naik angkot jurusan terminal Ledeng, dilanjutkan naik angkot St. Hall - Lembang, dan turun di gerbang bawah Observatorium. Ongkosnya kalau ndak salah IDR 3.000 per rute. Saya sempat turun dari angkot jurusan Terminal Ledeng, karena arahnya tidak sesuai dengan maps saya. Saya curiga, orang yang saya tanyai ngasih tau arah yang salah. Lalu saya nanya sama orang dipinggir jalan, ternyata emang bener kalau mau ke terminal ledeng naik angkot tersebut. Akhirnya, saya naik angkot yang sama dibelakangnya, dan membayar ulang. Hae, saya bodol. Saya layaknya anak SMP yang ilang di tengah hingar bingar Bandung.

Dari gerbang bawah Observatorium, bisa naik ojek IDR 5.000. Tidak lupa minta nomer ponsel si ojek, bukan buat pdkt tapi buat ngasih tau kalau nanti minta di jemput selesai menikmati Bosscha. Hiihiiih.. Soalnya ya, kalau jalan kaki itu jauhnya lumayan, dan jalanan menanjak, saya maunya ngirit energi juga waktu :p

Teleskop ganda Zeiss 60 cm, rancangan K. C. P. Wolf Schoemacher
Sampai di Bosscha ternyata jam tour pertama sudah habis, saya tiba di lokasi pukul 09:30an. Sesi tour pertama usai dan saya harus menunggu sampai pukul 13:00 jika ingin tetap mengikuti tour. Sayangnya saya juga belum punya izin untuk mengikuti tour Bossha karena belum mendapatkan email balasan dari pengelola. Dan hari itu adalah hari kunjungan sekolah, bukan personal. FYI, jadwal kunjungan Bosscha dibedakan untuk personal keluarga dan kunjungan sekolah. Jika ingin berkunjung, sebaiknya jauh hari sudah berkirim email atau menelefon pengelola langsung. Email izin kunjungan yang saya kirim dua hari sebelum keberangkatan ke Bandung, baru mendapatkan balasan setelah saya tiba di penginapan malam hari setelah tour Bosscha.. Kayaknya saya emang niat dolan ke Bosscha, bukan tanpa mikir panjang. Hahhaak

Bamberg, Refraktor dengan diameter lensa 37 cm dan panjang fokus 7 m.
Saya lupa siapa namanya, seorang ibu yang menjaga loket masuk dan mengurusi perijinan kunjungan Bosscha. Kami banyak mengobrol, ngalor ngidul, dengan saya memasang wajah memelas ingin mendapatkan izin dadakan untuk mengikuti kunjungan. Saya meyakinkan si Ibu kalau saya datang sendirian jauh – jauh dari Semarang untuk menyempatkan diri berkunjung kemari. Hingga akhirnya si Ibu menawarkan kepada saya untuk mengikuti sesi tour kedua bersama siswa siswi TK, hahak! Saya juga tidak perlu membayar untuk ini. Baiknya si Ibu, sepikan saya berhasil hehe :’)

para radaaar
Sambil menyelam minum air, sambil menunggu saya sempatkan mengitung hitung deretan angka dari nol hingga sembilan. Pukul 13:15 siswa siswi TK itu mulai menampakkan batang hidungnya, yaaaay! Kami dibawa masuk dalam studio mini untuk pengenalan tata surya dan teman – temannya. Saya juga baru tahu kalau pluto bukan lagi bagian dari gugusan planet yang mengelilingi matahari. Saya kurang tertarik disini, bayangan otak saya penuh dengan Teleskop Zeiss yang wah itu..

Dan, taraaaaaaaaaaaaaaa! Haaaaaahhhaaak, saya bisa pamer ke Mas Andang yang kuliah empat tahun di Bandung tapi belum pernah bertandang kemari.. *sambil melet*
Karena saya berkunjung siang, jadi ndak ada sesi peneropongan. Sebenarnya, oleh Mas Efan yang mengisi sesi di Teleskop Zeiss saya diundang untuk pengamatan dan peneropongan di Teleskop Unitron dan Bamberg malam harinya, kebetulan sedang ada hujan meteor. Sayangnya saya ndak bisa ikut. Masih ada prioritas untuk esok hari, dan saya yakin betul tidak bisa meninap di Bosscha malam itu.. :))

Usai kunjungan saya membeli beberapa pin sebagai buah tangan, berpamitan dan berterimakasih kepada Ibu tadi serta bapak security yang mau nemenin membunuh kebosanan saya dalam menunggu. Sekali lagi, saya ditawari untuk bergabung bersama mereka di peneropongan malamnya. Hati saya mendadak kocar kacir, hahahah..

Calling mas ojek, lalu dilanjut naik angkot menuju Stasiun Bandung. Di Bandung, jujur saja saya kesulitan menemukan mart – mart yang di Jogja dan Semarang sangat mudah saya temukan, terpaksa saya harus ke Stasiun Bandung untuk membeli tiket pulang ke Jogja. Dan berhubung penginapan ada di Kiara Condong, saya naik KA Lokal dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Kiara Condong dengan membayar IDR 1.000! Murah bukan? Tapi ya, begitu sumpek dan semumpel di dalam gerbong, bergerak pun susah. Ndak disediakan gerbong khusus perempuan juga. Aih!

Viola, petualangan hari pertama di Bandung selesai. Sambil nulis ini saya keinget gimana saya dibuat nangis dower dower sama supir angkot di Bandung, padahal ketika harapan yang saya kejar pupus, emosi saya tidak bergejolak sedikit pun. Hahhaak! *keplak kepala sendiri*

More info, silahkan kunjungi http://bosscha.itb.ac.id yahh! Update jadwal kunjungan dulu kalau mau kesana, saran saja sih :)

Jadikan kantung samping ransel sebagai tempat sampah dimana pun berada, tep jaga kebersihan dari diri sendiri yaaaak! ;)

12 komentar:

  1. Masih pengen balik lagi kesana #bhikiki

    BalasHapus
  2. Apa ini, namaku digembar gemborke... :))
    Aku 5 tahun ya, bukan 4 tahun... Ralat... :p

    BalasHapus
  3. Siapa tau dapet jodoh dari gembar gembornya mas, bhikiki..

    BalasHapus
  4. wahh kenapa g foto milkywaynya disambuung di teleskop ini aja mba :))

    BalasHapus
  5. pertanyaannya dibalik langit bandung yg terang benderang karena lampu kota..dari teleskop masih bisa melihat bintang enggak ya???

    BalasHapus
  6. wah sy juga sempat 'kesiangan' disana dan tak sempat masuk karena dadakan.. spertinya memang harus terencana yakz

    BalasHapus
  7. @alan : bandung polusi cahaya mas :(
    @anno : belum nyobain neropong. tapi kayaknya tetep kelihatan walau tipis suhu..
    @daeng : saya tetep pengen balik kesana lagi, belum afdol kalau belum ikutan neropong daeng..

    BalasHapus
  8. kaya laboratoriumnya felix the cat yak.
    lain kali bawa globe ren hehe

    BalasHapus
  9. hahahaa.. bawa globe segala :p

    BalasHapus
  10. lagi-lagi, udah berkali-kali ke Bandung tapi belum pernahh mampir kesini :( :(

    terbuka untuk umum yah untuk sesi peneropongannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. dibuka kok, jadwal kunjungan langsung ke sekretariatnya aja :)

      Hapus
  11. Tengkiu Infonya yah ^^, Lagi pengen ke Boscha trus gugling cara kesana dari bandung jadi mampir kesini :)

    Salam kenal ^^,

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')