Senin, 04 Februari 2013

Merapi: Biru yang Sebentar


Pendakian kami lanjutkan, Mas Oki bilang trek yang paling sulit adalah dari patok satu ke patok dua. Dan benar saja, jalan yang kami lewati bebatuan dengan kemiringan hampir enam puluh derajat. Sedikit – sedikit saya berhenti, beristirahat dan mengambil beberapa gambar yang enggan saya lewatkan. Cuaca begitu bersahabat pada jam itu. Saya, Tata, Toyib, dan Ayad berada dibelakang berjalan sangat santai. Sedangkan Mas Oki, Bambang, dan Senna di depan. Mereka seperti sudah biasa berjalan di trek yang seperti itu, entahlah. Saya ndak bisa mengimbagi para lelaki petualang itu.

Senna!
Merbabu, dari Merapi
ini tata,
Sindoro Sumbing
para porter :p
Selang sepuluh menit kami berhaha-hihi di patok dua, pendakian berlanjut. Cuaca masih bersahabat, hingga ketika kami sampai di Watu Gajah, negara api mulai menyerang! #loh
Endak sih, angin kencang dan kabut tebal kembali datang. Bluesky yang sangat memanjakan pandangan ditepisnya begitu saja, menuju Pasar Bubrah seolah angin semakin marah. Bahkan saya sempat berjalan sambil merunduk jongkok karena takut terbawa kabur. Hee :p

Dan ditempat inilah kamera terakhir kali keluar dari persembunyiaannya. Di memoriam tepat dibukit diatas Pasar Bubrah. Jaket kami mulai basah oleh kabut, tidak ada hujan tapi kami basah kuyup. Pemancar yang jaraknya tidak kurang dari lima meter tidak terlihat, juga tenda – tenda para pendaki yang berdiri kokoh di Pasar Bubrah.
Hanya "abu – abu" yang kami lihat, …

tim pikniker
Lalu, kami berjalan kembali ...

Note : Take nothing but pictures, leave nothing but footprints, kill nothing but time.

2 komentar:

  1. nek aku jadi ngidam merapi njuk piye jalll

    BalasHapus
  2. @slamsr : rencana bulan depan mau napak tilas lagi, san ke merbabu #ngikik

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')