Jumat, 01 Februari 2013

Merapi: Bersama para Pikniker


Sang bayu bertiup cukup kencang membawa butiran air yang menjelma menjadi kabut. Dari kejauhan nampak pemandangan kota dengan kerlap kerlip lampu layaknya gugusan bintang di langit sana. Di sisi timur terlihat kilat berwarna merah menyambar nyambar dengan begitu kokohnya, tepat disamping Merbabu yang hampir tidak tampak karena tertutup awan pekat. Itulah malam indah saya bersama ke tujuh kawan dalam perjalanan menuju puncak Merapi, Mars-nya Bumi.
Ayad dan Mas Oki berada dibarisan belakang karena membawa beban yang paling berat. Carier yang menempel pada punggung Ayad bahkan lebih tinggi dari pada kepalanya. Oh, ternyata Ayad membawa tenda cadangan untuk kami. Mereka ditemani Niyas dan Senna. Sedangkan saya berada di barisan depan bersama Tata, Bambang, dan Toyib.

“Aku iso ra ya tekan nduwur? Ndak yo kuat ya Ta? Trek’e parah ngene..” Keluh saya yang baru berjalan kira – kira dua puluh meter.
“Iso lah, iso..”, Tata menyemangati saya. Dia sepertinya tau betul kalau fisik saya melempem dibanding kawan yang lain. Bahkan dia terlalu sering bertanya apakah saya lelah atau tidak.

Sambil menunggu barisan belakang, kami yang berada di depan berhenti pada satu gundukan tanah yang cukup datar. Langit yang sebelumnya mendung menjadi sedikit lebih cerah. Begitu pun terlihat lebih banyak kerlip bintang yang membujur membentuk Bimasakti. Kilat kini menyambar nyambar dari sebelah kanan pandangan saya melihat Merbabu, dan cahayanya lebih indah. Tangan saya gemes ingin sekali mengeluarkan kamera, sayangnya diantara kami semua tidak ada yang membawa tripod. Jadi niat itu urung. Bimasakti terlewatkan dalam jepretan kamera, tapi tidak dari pandangan kami.

Nafas saya semakin tersenggal – senggal. Bahkan saya sudah bernafas menggunakan bangtuan mulut. Sedikit sulit untuk saya bernafas sembari berebut oksigen dengan para tumbuhan disekeliling yang jumlahnya ribuan itu. Saat itu kami baru belum mendapatkan setengah perjalanan menuju pos satu. Saya berkali – kali berhenti dan merunduk lelah. Malam itu trek yang kami lewati hanya tanah yang menanjak hebat.

“Kuuuuriikk kuriiiiiiiiik..”, Kami yang di depan berteriak.
“Kuriiiiiiiiiiiiiiiiiiiik…”, Dan mereka yang dibelakang menjawab.
“Woyyyyyyoooooooooooooooooooo..”
“Woooooooooooyyy.. Yang depan lihat belakang yaa..”
“Ngarep gapuro, dewe ngenteni kono yaaa..”
“Yooooooooooooooo..”

Begitu cara kami berkumunikasi untuk mengetahui seberapa jauh jarak antara barisan depan dan belakang. Kuriik konon ceritanya berasal dari kata korek, entah bagaimana bisa melenceng jauh begitu. Haha.

Cuaca mendadak berubah. Suara desiran angin semakin kencang ketika kami sampai di gapura. Jari – jari tangan ini mulai terasa kaku, dan kaki mulai bergidik ngilu enggan diajak berjalan lagi. Kabut tebal cukup ampuh dalam menghalangi jarak pandang kami. Kami memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan dengan tempo langkah yang dipercepat. Target kami adalah membuka tenda di pos dua, jika cuaca masih seperti itu. Disana terdapat goa kecil untuk berlindung.

Langkah kaki kami ternyata tidak bisa mengimbangi Alam. Rintik air mulai membasahi jaket kami satu persatu, diiringi suara angin yang semakin bergermuruh kencang ketika kami hampir sampai di pos satu. Saya, Niyas, dan Toyib bersembuyi dibalik batu besar. Sementara yang lain mencari tempat untuk mendirikan tenda. Ya, kami terpaksa mendirikan tenda di pos satu mengingat cuaca yang memburuk dan jauhnya jarak dari pos dua.

“Yo, siap – siap mlebu tendo wes dadi ki..”, Teriak salah seorang yang saya tak ingat siapa. Saya dan Niyas beburu membereskan matras alas kami duduk dan menuju tenda. Terkaget saya, tenda yang didirikan adalah tenda dengan kapasitas 4 orang, sedangkan kami berdelapan. Bisa dibayangin gimana mumpel di dalam tenda. Para lelaki tangguh itu kemudian membuka empat buah nasi bungkus, Niyas menyuir empat buah paha ayam goreng yang memucat. Saya menyiuapkan sendok, sedangkan Ayad membubuhi nasi tadi dengan snack bernama Lays. Makan malam sederhana kami.


Gemuruh angin masih terdengar cukup kuat dari dalam tenda, sesekali hembusannya menembus fleysit yang menyelimuti tenda kami. Tata dan Mas Oki yang berada diluar sedikit heboh dengan lanskap didepan pandangan mereka. Saya pun beranjak keluar tenda, dan Subhanallah indah sekali. Sindoro Sumbing nampak membiru dalam balutan langit bertabur bintang. Separuh badannya kebawah ditutup oleh lautan awan putih, menggumpal begitu pekat seolah mengundang saya untuk berenang kesana. Indaaaah sekali.


Dalam hati saya gelo, karena saya ndak membawa benda ajaib bernama tripod. Mas Oki pun hanya membawa tripod gorila mini, yang tingginya hanya ndak lebih 30 cm. Alhasil gambar super fail yang kami tangkap. Fail banget! Soalnya tangan udah kesulitan buat setting kamera gegara mulai kaku. Badan perlahan memberontak, tidak mau diajak berlama – lama menantang badai angin bercampur kabut tebal hingga akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dan menyimpan tenaga untuk esok.

Saya sendiri sebetulnya ndak bisa tidur saking dinginnya. Cukup sering saya mendengar suara pendaki lain yang entah akan naik atau turun ke Puncak Merapi. Beberapa diantaranya menyorotkan senter ke tenda kami. Ada juga yang menghampiri kami dan membutuhkan tumpangan. Pukul 01.00 hampir semua terlelap kecuali saya.

***

Dari patok pertama Merapi, pukul 03.30 dini hari.
“Permisi.. Permisi..”, Suara seorang perempuan dari balik tenda. Semua diantara kami berdelapan acuh dengan suara itu. Kehangatan sleeping bag memang sungguh surga dunia, hahha.
“Excuse me.. Excuse me.. Permisi..”, Suara kembali terdengar dan diulang – ulang. Saya sendiri ndak berani membuka tenda, dan menunggu Senna yang membukakan tenda.
“Halo mas, boleh numpang nggak? Saya kedinginan banget udah setengah jam lebih dibalik batu. Tadi mau ngetok tenda nggak berani, takut ngeganggu..”, Suaranya sedikit terbata – bata.
“Iya mbak, silahkan. Tapi kami udah berdelapan. Sesak nggak apa ya..”
“Nggak apa mas.. Maaf ya ngeganggu. Saya beneran udah nggak kuat nunggu diluar, anginnya tambah kenceng..”

Saya lupa nama mbaknya, Nima? Niam? Ah, saya lupa. begitu juga dengan semua kawan saya. Ingatan jangka pendek kami benar – benar buruk. Hahaa.. And, well saya memanggilnya Nima, nama yang mudah diingat. Saya sendiri ndak bisa bayangin gimana dia bisa bertahan selama setengah jam di balik batu hanya dengan mengenakan sweater yang tidak terlalu tebal, hingga akhirnya memberanikan mengetok tenda kami.

Kami kemudian berkenalan satu persatu, seisi tenda terbangun dan bercerita bersama. Nima datang bersama seorang bule cowok Australia dan seorang perempuan etnis Cina. Bertiga mereka mendaki bersama guide bernama Pak Joko. Nima memutuskan untuk tidak ikut melanjutkan perjalanan ke atas bersama teman dan guide nya karena selalu ketinggalan, dan ndak enak sama teman - temannya jika karus menunggunya. Martin, si bule cowok dikatakannya sudah pernah menjelajahi pengungan tershor di Nepal. Sedangkan dia tidak menceritakan sedikit pun tentang teman perempuannya yang satu lagi. Oya, satu minggu sebelum ke Merapi, Nima melakukan perjalanan kecil ke Gunung Anak Krakatau. Wih, saya bergidik ngeri denger ceritanya.

Menyambut dinginnya sang surya.
Rambutnya gondrong, penampilannya seperti sudah puluhan kali mendaki gunung. Dengan mengenakan setelan jaket hitam orange dan kupluk dengan warna senada, Pak Joko pagi itu menghampiri kami menanyakan apakah ada perempuan yang mampir semalam. Dan benar saja, ternyata bapak paruh baya ini adalah guide Nima. Dia bersama Martin dan seorang lagi saja turun dari patok dua. Kami berkenalan, lalu sedikit mengobrol dan berfoto bersama. Selang beberapa waktu, Nima berpamitan dan turun bersama teman - temannya. Saya sadari, malam hingga pagi itu begitu indah.

Nima, yang mengenakan sweater orange.

Martin, yang botak di tengah itu..

Sedikit demi sedikit kabut berlari entah kemana, awan tebal yang menyelimuti puncak Merapi pun mulai luluh. Merbabu tampak kokoh menghijau diseberang sana, dan lebih jauh dari pandangan tampak pasangan serasi Sindoro dan Sumbing. Pagi itu cuaca mengikuti kegembiraan hati kecil saya, :)

Dan akhirnya Mas Oki mengajak kami untuk berjalan kembali, tapi kali ini tanpa Niyas. Niyas memang sudah pernah naik ke Merapi, dan dia memilih untuk berselimut tebal di dalam tenda karena kurang enak badan. Saya, dan ke enam kawan lain memulai perjalanan, ..

*bersambung lagi, yaa? -- update, belakang saya ketahui perempuan bersweater orange itu bernama mirna :p

2 komentar:

  1. Syemmmm tenan, mingin mingini.
    soon soo. kalo dengkul dah pulih ya

    BalasHapus
  2. @slams, daku juga pengen kesana lagi. pengen merbabu-merapi :p

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')