Rabu, 27 Maret 2013

Bimasakti Pertama Kami


"Nduk, bangun dulu yaa. Sini ikut sebentar.."
Suara lembutnya membangunkan saya yang masih menari - nari dalam mimpi.
Malam itu, Ia menunjukkan sekeping rindu yang sudah lama saya nantikan :')

Selama beberapa lama saya mencari malam seperti malam itu, dan tidak pernah satu pun saya dapatkan. Ah, benar! Terkadang kita perlu mencari. Jadi cukup diam, bersyukur, dan menikmati setiap hembusan nafas ini :')

PS : Foto diambil dari landas pacu paralayang, Parangendog, Yogyakarta

Jumat, 22 Maret 2013

Bersabana di Merbabu

matahari terbit di gunung merbabu

Pagi yang cerah. Mata saya berbinar, berkaca – kaca melihat hamparan awan dan kabut yang menggulung – gulung menyelimuti kota dibawahnya. Membentuk layer – layer sederhana kesukaan saya.. Di selatan, merapi berdiri dengan gagahnya. Terlihat New Selo sangat kecil dari pandangan, juga pasar bubrah yang mengingatkan saya akan pendakian merapi dua bulan silam. Sedangkan di utara sana, puncak trianggulasi dan kenteng songo mulai melambai kepada kami.

Jumat, 15 Maret 2013

Berjalan Melawan Batas, Merbabu


Masih teringat jelas ketika kedua tangan saya mulai berbintik merah karena kedinginan, padahal saya baru berjalan sekitar seratus-dua-ratus-meter dari gerbang pendakian. Juga ketika hujan deras sore itu dengan kuatnya merobohkan saya. Saya jatuh tersungkur, kaki saya marah enggan diajak meneruskan perjalanan, saya tertunduk lemas disebuah tanjakan terjal selepas watu tulis. Saya menegakkan kepala, melihat keatas betapa masih jauhnya ujung yang akan saya capai, sedangkan saat itu saya merasa tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Padahal jika saya terus diam ditengah hujan badai, saya bisa saja terserang hipotermia.

Jumat, 08 Maret 2013

Disebuah Bukit, Menanti Matahari

foto : detart

Tak ubahnya malam yang selalu ditunggu para pengagum bintang dan bulan, pun matahari punya pengagum yang selalu menanti ketika ia datang. Gesekan sang bayu dengan para pohon yang kokoh berdiri di depan kami itu begitu bergemuruh, membawa dingin yang menusuk hingga tulang rusuk, dan sesekali ia mengajak temannya, kabut, untuk ikut menyerang semangat kami yang masih bertahan menanti. Melumpuhkannya hingga salah seorang dari kami pun berkata, “Tambah dingin, ayooo kita tidur. Kita nggak akan dapet sunrise..”