Jumat, 15 Maret 2013

Berjalan Melawan Batas, Merbabu


Masih teringat jelas ketika kedua tangan saya mulai berbintik merah karena kedinginan, padahal saya baru berjalan sekitar seratus-dua-ratus-meter dari gerbang pendakian. Juga ketika hujan deras sore itu dengan kuatnya merobohkan saya. Saya jatuh tersungkur, kaki saya marah enggan diajak meneruskan perjalanan, saya tertunduk lemas disebuah tanjakan terjal selepas watu tulis. Saya menegakkan kepala, melihat keatas betapa masih jauhnya ujung yang akan saya capai, sedangkan saat itu saya merasa tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Padahal jika saya terus diam ditengah hujan badai, saya bisa saja terserang hipotermia.

dibantuin kakak :D

"Ayo, kamu bisa. Sedikit lagi kita sampai di sabana I,.."
Ia mengulurkan tangannya, mendatangi saya dan membantu saya berdiri perlahan. Menyemangati saya yang sudah mulai drop mental juga fisik. Itu kali pertama pendakian saya ditemani hujan badai ditengah perjalanan. Tiada tempat yang cukup aman untuk kami mendirikan tenda, mau tidak mau kami harus sampai di sabana I, mencari tempat yang sedikit lapang dan beberapa pepohonan untuk dijadikan tameng penghalau angin kencang. Tidak ada senja, tidak ada langit biru-orange cerah menjelang petang, tidak ada berkemah dibawah edelweis. Semua yang saya mimpikan akan saya lihat saat pendakian pun pupus.

Saya tergeletak diatas matras setelah dengan seenak hati melempar tas seberat kurang lebih dua belas kilogram yang sudah lima jam menempel dipunggung ke rerumputan. Saya berada di sabana I, terlewati sudah satu jam terseok - seok berjalan pada terjal dan licinnya trek tanah berlumpur yang sekaligus menjadi jalan air hujan turun kebawah bukit. Entah berapa derajat suhunya, dingin air hujan saat itu lebih dingin dari air yang saya rasakan di kebun teh medini.

Dengan masih mengenakan rain coat silver juga baju basah yang belum sempat diganti, saya merintih ngilu kedinginan, ujung - ujung jari saya mulai mati rasa. Kaki kembali lemas, ia benar - benar marah kepada saya. Saya kemudian memejamkan mata sejenak, berharap ketika saya membuka mata, saya sudah berada dirumah ditemani coklat panas dan berselimut hangat. Ah, sekali lagi semua itu hanya mimpi!

Sedangkan dibalik rimbun pepohonan, dua orang yang lain sedang berburu dengan waktu mendirikan tenda agar kami bisa segera beristirahat dan menghangatkan badan. Malamnya, saya tidak bisa terlelap. Angin bertiup sangat kuat, menusuk tubuh kami walau tenda dan jaket tebal berlapis sudah melindungi. Hujan deras kembali menemani malam panjang di hari sabtu itu. Dada ini seolah ditindih batu yang sangat berat, nafas mulai tersenggal - senggal. Saya kemudian memilih untuk duduk, mengambil ponsel saya dan bermain quento, serta ular tangga bersama tata, ngobrol ngalor ngidul semalaman hingga akhirnya sebelum subuh saya sempat terlelap sebentar dan hampir melewatkan fajar.

sunrise di merbabu :')

Ia memperlihatkan salah satu lukisan indah-Nya di hari minggu pagi itu, Subhanallah.. Setelah hujan badai semalaman, Gunung Lawu menjulang di depan pandangan dengan manisnya, dibalut gumpalan - gumpalan awan dan kabut tebal-tipis-tebal bak lautan. Pun matahari pun masih malu - malu bersembunyi dibaliknya. Kembali, sepotong damai yang hilang ditemukan disini :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')