Jumat, 22 Maret 2013

Bersabana di Merbabu

matahari terbit di gunung merbabu

Pagi yang cerah. Mata saya berbinar, berkaca – kaca melihat hamparan awan dan kabut yang menggulung – gulung menyelimuti kota dibawahnya. Membentuk layer – layer sederhana kesukaan saya.. Di selatan, merapi berdiri dengan gagahnya. Terlihat New Selo sangat kecil dari pandangan, juga pasar bubrah yang mengingatkan saya akan pendakian merapi dua bulan silam. Sedangkan di utara sana, puncak trianggulasi dan kenteng songo mulai melambai kepada kami.

masih di sabana I, akan menuju sabana II
di ujung sabana I, bersama pendaki lain
Sebelum matahari semakin terik, kami sarapan dan berkemas. Melanjutkan sepertiga perjalanan lagi menuju trianggulasi dan kenteng songo. Melaui jalur pendakian Selo, Merbabu dikenal dengan gunung dengan tujuh puncaknya. Saya pun sempat ngedumbel berkeluh sendiri karena beberapa puncak bukit yang terlewati masih berujung pada puncak bukit yang lain di depan sana.. Banyak puncak palsu disini! Heheeh.. Tapi, sabana yang kami lewati pagi itu membuat mulut saya berhenti bergeming kesal. Celoteh para pendaki yang berbarengan dengan kami, membuat perut saya terkocok hebat, lelah pun tidak begitu terasa. Hingga saat saya tersadar sabana II ada di depan mata.

“Maune dewe rep nge-camp neng kene ya? Ngisor edelweis iki? Rimbun damai yoo jane..”
“Iyoo.. Lha kowe tepar owk, dadi rak sido.. Hahahak..”
Kemudian kami tertawa bersama.. Saya nyusahin mereka banget kayaknya :p

entah apa namanya :')

sabana II, syahdu!

Tak banyak alasan untuk saya jatuh cinta pada sabana II. Ribuan damai tersimpan ditempat sunyi ini. Deru angin mengiringi langkah demi langkah. Pun terdengar kicauan burung pengunungan yang merdu. Syahdu sekali.

sabana III
sabana III. terlihat bukit paling ujung tertutup kabut adalah sabana I, campsite kami
Kembali lagi, tanjakan terjal kami lewati dari sabana II menuju sabana III, juga sabana III menuju puncak trianggulasi. Saya beruntung karena treknya tidak separah pos II pandean – watu tulis – tikungan macan - sabana I. Sesekali saya beristirahat sambil menikmati indahnya sabana di bawah sana. Ilalang menari – nari tertiup angin, awan pun bergerak dengan cepat saling kejar – mengejar. Sekejap Merapi berselimut awan tebal.

puncak trianggulasi
puncak kenteng songo
Beberapa pendaki lain sudah berada di puncak trianggulasi, dan kenteng songo diseberangnya tak tampak karena tebalnya kabut. Walau hanya awan-kabut-awan-kabut abu-abu gelap gerimis yang dapat kami lihat dari puncak sana, rasa syukur itu tak pernah bisa berhenti. Semuanya manis terekam dalam otak dan hati kami masing – masing.

perjalanan pulang ke campsite

“Fauuuuuuuult!”
Terdengar tata berteriak di depan saya, ternyata ada tas salah seorang pendaki yang menggelinding turun. Beruntung pendaki dibawahnya tidak ada yang tersambar tas besar itu. Ah, iya.. Semua orang harus berhati – hati disini, bukan untuk keselamatan dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain. Kurang dari satu setengah jam, kami sampai di sabana I. Memasak orak arik makaroni telur ternyata ide yang cukup bagus.

pasaran! masak orak arik telur makaroni..
“Sik sikk.. kowe mangane akeh men sih? Tumben doyan mangan..” heran ia, karena saya makan seperti kudalumping kesurupan..
“hahahaaa..”, Saya cuman ketawa nyengir! Jujur saja saat itu saya laper banget. Walau cabai, bawang, taoge dan semua bahan lain tidak dicuci bersih, nyatanya semua masuk dalam perut saya dengan mudah.. hahhaak! *nyengir*

Beranjak pukul tiga sore hari kami sudah berkemas, karena cuaca kembali enggan bersahabat. Satu hal yang saya ingatkan, jangan pernah meninggalkan sedikit pun sampah di gunung dengan atau tanpa alasan apa pun. Gunung bukanlah tempat sampah!

gundukan sampah di sabana I
Minimal sampah yang dibawa masing - masing dulu lah, kalau berbaik hati, sambil jalan pulang sambil mungutin sampah yang ada di sepanjang jalur pendakian. Ya?

Dan kembali, turunan curam menyebalkan menghadang. Kami tidak melewati tikungan macan, dan memilih menerabas jalur. Saya beberapa kali terpeleset disini, menggelinding dan menuburuk mereka yang di depan meski sudah berhati – hati. Saya merasa sendal gunung saya harus segera diganti. Dan benar saja, “Celkeeeeeeeeek!” sendal wirosableng kesayangan ini putus sebelum memasuki pos pandean. Hahaaa! Dituntut untuk kreatif dalam segala kondisi, tata dan mas oki sibuk menali sendal saya agar tetap nyaman ketika digunakan, dan untuk mengurangi resiko kesleo. Sedangkan saya, hanya menyemangati saja :p

Setelahnya, mental saya diuji (lagi). Saya beberapa kali jatuh tersungkur di beberapa turunan curam yang sangat licin. Beberapa pendaki lain pun terperosok bak bermain perosotan yang ada di kolam – kolam renang. Juga, ada rombongan pendaki lain di depan kami, berenam atau delapan orang yang tidak memberi jalan kepada kami. Memang saat itu hujan kecil dan jalanan sangat licin, semua pendaki berjalan dengan sangat berhati – hati. Kami mencoba bersabar dibelakang, mengikuti mereka yang berjalan pelan, sangat pelan, hingga hampir satu setangah jam berlalu. Saya pun mulai ngomel nggak jelas, jari – jari kaki makin terasa perih menahan beban badan. Punggung yang terbebani carrier sebentar – sebentar minta diajak membungkukan badan. Berjalan pelan, dan sebentar – sebentar berhenti untuk antri jalan bukan pilihan yang tepat.

“Sikilku wes kemeng, jempol sikilku perih banget, kapan tekan nek ngene! Aku pegel, aku sebel. Aku mung pengen ndang tekan beskem..”

Ternyata nggak cuman saya saja yang sebel. Mas oki menawarkan berani jalan cepat nggak, dan saya mengiyakan. Dengan lantang ia meminta jalan kepada rombongan di depan. Sebenernya agak nggak enak mau minta jalan duluan, tapi mau gimana lagi. Saya juga nggak mau ngesot – ngesot sampai malam di hutan.

Tigapuluh menit mendekati basecamp, saya sudah tidak bisa berjalan normal. Badan saya gontai setiap kali melangkah. Pun matahari terbenam di ufuk barat, dan hutan mulai menggelap. Saya berpindah berjalan ditengah karena mulai ketakutan, entah karena apa. Langkah kaki saya semakin pendek, beberapa kali tersandung sampai harus berpegangan kesana kemari.

Beruntungnya saya pergi dengan mereka yang peka dan mau membantu saya. Mereka yang mau nyeret – nyeret saya disetiap jengkal Merbabu dengan semangat yang masih tersisa. Mereka yang mau mengulurkan tangannya ketika saya kesulitan melangkah, atau ketika saya tersungkur diatas tanah. Mereka yang memberikan kesempatan pertama kepada saya untuk meneduhkan diri padahal mereka sendiri kedinginan hebat, juga mereka yang mau menunggui saya yang berjalan lambat walau diri mereka sendiri membawa beban yang jauh lebih berat ketimbang saya.. Jangan kapok ya, jalan bareng saya! :p

Benar kata kebanyakan orang, kalau mau tahu sifat asli seseorang, alam-lah tempatnya.. Dari perjalan ini saya belajar banyak hal, terutama soal penguatan mental :p Dan, dari alam pula lah kita disadarkan, bahwa kita bukan apa - apa di semesta.. Maka bersyukurlah :')

6 komentar:

  1. wow.. takjub.. dan sedihnya liat sampah2 numpuk begitu :(

    BalasHapus
  2. banyak yang ngakunya pecinta alam, tapi buang sampah seenak udelnya dewe (--")

    BalasHapus
  3. wah lagi ijo2nya ya sabananya,,jd kangen merbabu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gyaaaa! Pun saya pengen balik lagi kesana :'3

      Hapus
  4. mbak moy... amazing dah viewnya... indah dan damai ciptaan Allah, Subhanallah

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')