Selasa, 02 Juli 2013

Cerita Tentang Petak Sawah

Suatu pagi, di Ambarawa.

"Aaaaaaaaaak! Disana banyak kerbau.. Ayo kesana, ayo kesana..", teriak saya kegirangan.

Saya suka sawah. Entah kenapa tempat yang menurut kebanyakan orang penuh dengan lumpur dan binatang menjijikkan itu begitu memikat hati saya. Saya bisa bengong berjam - jam duduk manis di dalam gubuk atau pada pematang hanya untuk sekedar mendengarkan desik padi yang bergesek dengan hembusan angin sore, atau gemericik air sungai yang mengalir pada petak - petak sawah nan hijau. Berjalan kesana kemari, berbolak balik dengan pola yang sama, dengan tangan disamping, menyeret padi - padi yang mulai merunduk, merasakan tajamnya daun padi yang dapat menyayat jari - jari saya, atau hanya untuk menikmati kicau burung - burung sawah sambil membaca buku favorit saya.

Saya suka ketika melihat para petani memukul - mukulkan padi ditangannya kesebuah kotak kayu yang berlubang tengahnya, ketika mereka memisahkan padi dengan tangkainya. Melihat seorang bapak paruh baya membawa sebilah kayu untuk angon kerbau dibawah rindangnya pepohonan kelapa yang menjulang tinggi ke langit. Juga berlarian bersama itik - itik kecil yang sedang diajak bermain oleh empunya di pagi hari yang bermandikan dinginnya kabut tebal. Sepotong damai, sepotong bagian dari surga? Mungkin.

Suatu sore, di Mapagan, Ungaran.

// padi // petani // sungai // burung - burung sawah // kerbau // itik kecil // pohon kelapa // deruan angin sore // matahari terbit di bilik garis timur bumi // 

Mereka semua punya cerita, seperti padi yang makin berisi semakin merunduk, seperti petani yang selalu bersabar mengelola sawahnya meski ketidakpastian akan hama dan cuaca menggelisahi hati setiap petang tiba, seperti kehidupan yang selalu mengalir tanpa henti layaknya air yang mengalir pada sungai tak berujung, seperti kerbau yang bodoh tapi kuat dan selalu patuh pada tuannya, seperti burung - burung terbang bebas berkebalikan dengan anak - anak itik yang harus digiring empunya untuk tetap berjalan pada polanya, seperti pohon kelapa yang semakin tinggi semakin ia mudah terkoyah oleh hembusan angin sore yang menyapa. Dan juga, siapa yang tidak ingin menjadi seperti matahari yang selalu menyinari, dinantikan dari bilik timur bumi setiap pagi menjelang?

-- Selamat pagi! :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')