Rabu, 03 Juli 2013

Suatu Pagi di Ranu Kumbolo

suatu pagi, di ranu kumbolo

"Timing kita meleset semua ya bray? Nggak nyangka bakal banyak banget yang mau naik, sampai harus ngantre setengah hari  lebih untuk sekedar mendapatkan surat ijin pendakian.."

***

Lewat jam duabelas malam kami tiba di Ranu Kumbolo. Sementara dua petangguh yang menemani perjalanan saya mendirikan tenda, saya membuat coklat panas, setidaknya itu dapat membantu tubuh meredam dinginnya jarum – jarum Ranu Kumbolo yang menusuk berlapis pakaian yang kami kenakan. Bimasakti malam itu benar – benar memanjakan mata, membujur membelah langit diatas tanjakan cinta hingga seberang danau. Garis – garis berwarna kecoklatan membentuk pola yang begitu jelas, tetapi kami memilih untuk tidak mengabadikannya dalam bidikan lensa kamera, sungguh tubuh enggan berkompromi. Perut yang belum terisi sejak siang meronta, kami pun lebih memilih memasak kemudian beristirahat.

"Kabutnya tebel banget, ...", saya kemudian menutup kembali resleting tenda. Angin yang berhembus cukup menggetarkan badan, dingin sekali. Saya kembali berselimut dalam hangatnya sleeping bag, menunggu sebentar kali - kali kabut yang mengelilingi danau akan segera menyingkir. Tiga puluh menit berlalu, tapi sama saja keadaannya. Keinginan saya untuk melihat matahari terbit dari balik bukit diseberang pupus sudah, pagi itu Ranu Kumbolo berselimut kabut tebal. Warna warni tenda yang berjajar sejak semalam pun tak terlihat dari kejauhan. Perlahan saya keluar tenda, menghangatkan diri dengan segelas coklat panas. Berlari - lari kecil menghalau dingin yang menusuk tubuh.

tampak seperti air mendidih diatas kompor

sekedar mengambil air untuk dimasak,

Saya masih tidak menyangka pagi itu disambut oleh embun pagi sebuah danau legendaris pada ketinggian 2.400 mpdl. Ditemani sekitar seribu orang pendaki yang memadati setiap jengkal tepian danau, Ranu Kumbolo pagi itu sangat ramai. Sahut menyahut antar pendaki, dendangan musik yang terdengar dari ujung danau, hingga canda tawa beberapa pendaki yang menceburkan diri ke dalam danau. Tidak semagis Ranu Kumbolo dalam bayangan saya memang, tapi suasana pagi itu benar - benar membuat mata saya berkaca - kaca, senyuman lebar terlukis dari bibir mungil saya.

***

bersamamu, dalam tanjakan cinta,
tanjakan penyesalan kalau kata saya. haha

Kabut tipis mengelilingi danau sambil menari - nari sepanjang pagi, ini mirip dengan suasana kabut tebal di hutan cengkeh beberapa tahun silam, wangi kabutnya terasa hingga hati, membuat diri ini terbang dalam lamunan panjang, ditemani alunan angin berhembus menerobos tingginya ilalang di padang savana yang mulai kecoklatan. Pepohonan yang menjulang tinggi, membelah pandangan menuju birunya langit. Reflesksi bebukitan yang membayang dalam dinginnya Ranu Kumbolo, terbentuk gelombang - gelombang kecil dipermukaan danau nan hijau karena sapuan sang bayu, melambai - lambai mengajak bermain. Belum lagi tanjakan cinta yang sudah melegenda dengan mitosnya tepat dibelakang tenda kami. Ranu Kumbolo, kamu sungguh cantik.
Tuhan memang arsitek terhebat. 
Kembali Tuhan membuat hati ini bergetar, tak henti berdecak kagum dan mengucap syukur. Ditemani para sahabat, pagi itu kami bermain - main disekitar danau sambil menikmati teh madu panas, favorit saya. Bercanda tawa, bercerita pengalaman masing - masing selama tiga hari bersama, dipadu dengan sepotong cerita romantisme yang terbangun dari kebersamaan dua insan. Ranu Kumbolo tidak hanya cantik, tapi juga romantis ya? :')


***

I climb the highest mountain across the savannah
Dreams of every creatures, dreams of everyone 

I look up to the sky, I see you in the clouds 
Running trough the night, waiting for a dawn 

I’m stopping by a river, staring at the sea 
I swim in deep blue oceans, and you are still with me 

The flowers and the bees 
The birds and the trees 

They belong together just like you and me 

-- the king, by endah and rhesa

#followmeto ranu kumbolo

dihujani hangatnya cahaya mentari dalam selimut kabut  yang menari - nari diatas ranu kumbolo

pagi ketiga di semeru, jumlah pendaki mulai berkurang, hijau air ranu kumbolo melambai - lambai

sekedar membuat teh madu, penghangat tubuh kami dipagi itu..

porter semeru, bermalam tanpa balutan hangatnya tenda. selembar sarung saja cukup,

danau berpagarkan bukit savana, foto : senna

sarapan kami, dari bertiga, menjadi berdelapan, menjadi bertigapuluh sembilan, menjadi berempatpuluhtiga.
siapapun dengan mudah menjadi sahabat ketika berada dalam dekapan alam. foto : piknik alam


salam perpisahan pada ranu kumbolo, sampai bertemu kembali dalam kegembiraan yang berbeda.
foto : piknik alam

-- "Tahun depan, bisa kita ke Ranu Kumbolo lagi, ya? Ya?"


PS : Selama saya berada di Ranu Kumbolo, saya menemukan banyak sekali 'ranjau' darat yang tersebar dipinggiran danau. Sumpah ini jorok banget, nggak cuman baunya yang menyebar sampai mana - mana, penampakan 'ranjau' yang nggak dikubur itu bikin eneg setengah gilak! Please, jangan cuman mikirin diri sendiri dengan buang hajat disembarang tempat tanpa dikubur.. Juga sampah!

14 komentar:

  1. Ayo tahun depan kita pindah KTP ranu kumbolo semuanya ya.. haha..

    BalasHapus
  2. ow iya, jangan lupa mampir di ankaranarenva.wordpress.com :D

    #salamngblog

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap kakak ankarareva :p
      salam bebas polio \o/~~

      Hapus
    2. btw, lebaran besar ke ranu bawa kambing biar ganyeng ya :))

      Hapus
  3. kalo lihat foto dan denger cerita asyiknya mendaki mendadak bikin galau...
    *munggah genteng*

    BalasHapus
    Balasan
    1. fiq, musti nyoba fiq. gunung ungaran yo sing cedak :'3

      Hapus
  4. Kapan aq punya waktu nie..
    Cuti gak pernah pas.

    BalasHapus
  5. jepretannya bagus2 *serius* sukaaa liatnya hehe..salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sisca, salam kenal yak! :)

      Hapus
  6. aku mau kesana naik helikopter

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')