Rabu, 10 Juli 2013

Tentang Keluarga Kecilku di Masa Depan

Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar untuk kami bertemu, dan mengulang kembali.

***

Sudah selarut ini, tapi kamu masih berlarian dalam otak ku. Membawaku terlena dalam bayang sebuah impian tentang keluarga kecil ku di masa depan. Membayangkan sosok mu, yang akan menjadi suami ku, menjadi nahkoda dalam kapal kecil ku, menjadi seorang yang dipanggil ayah oleh anak - anak ku, suatu hari nanti.

Kita akan memulainya tidak jauh dari orang tua masing - masing. Karena kamu tau, aku adalah sosok perempuan manja yang enggan jauh dari ketiak seorang ibu. Begitu pula kamu, pun aku tak akan pula membiarkanmu jauh dari kasih sayang yang tak pernah habis mengalir dari sosok perempuan yang melahirkanmu. Kita memulainya dengan menyatukan dua keluarga, hidup bersama, berdampingan dalam pagar kebahagiaan.

Seperti apa yang kita inginkan. Pernikahan sederhana dilangsungkan di satu pagi yang dihujani hangatnya cahaya matahari pada bulan Februari, tepat dihari jadimu. Pada ruang terbuka beralaskan rerumputan nan hijau, dikelilingi oleh warna - warni bunga berwarna pastel nan cantik dan beberapa pohon berukuran sangat besar sebagai peneduh. Turut pula doa dari keluarga dan sahabat terdekat yang hadir, dibawah sebuah arbor kayu berwarna coklat muda yang dibalut dengan pita panjang berwarna senada, kita mengucap janji suci itu. Hari itu, tangis bahagia tak terbendung dari sudut mana pun. Gurat senyum kegembiraan terpapar dari bibir setiap orang yang ada disana menemani kita.

Setelah hari itu, kita selalu bersama. Kubayangkan kita satu profesi, memiliki satu pekerjaan yang sama. Pekerjaan yang sama - sama kita sukai, dimana cukup dengan dikerjakan di sekeliling rumah saja. Karena aku yakin, kita akan sekata dalam hal ini. Sehingga aku dapat menemanimu sepanjang hari, bahkan ketika kamu melakukan perjalanan kecil, kemana pun mimpi mu berlari, aku akan ada disampingmu. Dihatimu.

Di satu sore yang cerah, ditemani matahari yang menyempit ujung cakrawala, kulihat kamu duduk bersama kedua anak kita di halaman belakang rumah. Berguling - guling di atas rerumputan sambil bercerita tentang senja, cerita dibalik nama mereka. Anak - anak kita tumbuh dengan sangat sehat, pintar, lucu dan manis. Mereka juga kritis dan sangat aktif bertanya ini itu. Suka sekali ketika diajak bermain di alam, berkemah adalah kegiatan favorit keluarga kecil kita. Sesekali kamu ajari mereka mengambil gambar dengan kamera buntut kesayanganmu, tapi kita tidak berharap mereka mengikuti jejakmu. Minat anak - anak kita, akan kita serahkan pada mereka masing - masing. Kita hanya akan mengarahkannya saja bukan? :)

Sedangkan aku sibuk memasak dibalik sebuah gerobak kayu berukuran sedang yang kita jadikan dapur sederhana dalam ruang terbuka di halaman belakang rumah kita. Rumah kayu berukuran kecil namun berhalaman luas. Berpagar papan kayu tanpa cat, meruncing tumpul dibagian ujugnya, lebar, dan tidak terlalu tinggi. Dikelilingi rimbunnya pepohonan sebagai peneduh, dan beberapa kandang binatang peliharaan anak - anak sebagai pelengkap kebun sayuran kecil yang hanya berberapa petak tanah saja.

Kamu dengan senang hati memperbolehkan aku membangun ruang baca kecil disamping rumah. Berbentuk gazebo, terbuat dari bambu beratapkan jerami mirip dengan gubug di pematang sawah. Disampingnya dua buah ayunan kayu mini menggantung pada pohon mangga yang menjulang tinggi ke langit. Lalu berjajar bangku taman tempat anak - anak biasa bermain dengan eyang dan omanya, tepat didepan sebuah kolam ikan koi milik ibuku.

Aku suka dengan rumah kita, tidak pernah membosankan. Rumah dengan sedikit dinding, ruangan demi ruangan tampak luas tanpa banyak sekat. Ada mushola kecil di sudut rumah bagian belakang, kita berjamaah disana setiap fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari diufuk barat. Ada ruang keluarga berkonsep terbuka di halaman belakang, bersebelahan dengan dapur. Kita akan sering menikmati hujan disana, di sebuah sofa yang tertata manis pada ujungnya.

Dan ketika kita bersama nanti, aku ingin menjadi sebaik ibuku, tegar seperti ibumu. Inginku menjadi lebih baik dari mereka. Melanjutkan bakti kepada orang tua, tetapi juga berbakti kepadamu. Mengasuh dan mendidik anak - anak kita dengan baik. Memastikan nafkah yang kamu berikan kepadaku adalah berkah. Menyemangati disetiap detik waktumu. Menyediakan bahu untukmu bersandar. Membangunkanmu setiap pagi, menyiapkan sarapan hingga makan malam untuk keluarga kecil kita setiap harinya. Atau sekedar menjahit kancing bajumu yang terlepas.

Our family is a circle of strength and love, with every birth and every union, the circle will grow, every joy shared adds more love, every crisis faced together, makes the circle stronger. - Unknown

Tak lupa kamu menuntunku untuk selalu bersyukur, bahwasannya tidak ada hal lain yang sempurna selain rasa syukur itu sendiri.

***

Aku memang terlambat menyadari bahwa kemana pun aku berlari, hanya dibahumulah aku menyandarkan diri. Semoga, memang kamu jawaban dari doa ku, Ar Rahman yang menemani di setiap subuhku. Dan semoga segala sesuatunya dimudahkan hingga nanti, hingga masing - masing waktu dari kita sudah habis disini.

"Bukan seberapa jauh aku harus melangkah pergi, tapi kali ini seberapa jauh aku bisa membawamu berlayar pada kapal yang sama.."

***

Kamu, terimakasih sudah membuatku merasa begitu dicintai.
Membiarkanku terjatuh dalam kubangan tulusnya sebuah hati.

Kamu, terimakasih telah meraih tanganku.
Menggenggamnya dengan kehangatan cinta yang tak terhitung luasnya.

Kamu, terimakasih telah menyediakan tempat dihatimu, untuk ku selalu dapat menamanimu kemana pun kamu pergi mengurai benang - benang mimpi :')


Kuyakinkan diriku, bersamamulah aku akan menghabiskan sisa waktuku.

11 komentar:

  1. moga segera tercipta keluarga yang kamu impikan ya mbak :D
    penuh kehangatan dan cinta tulus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin, makasih ellie. kamu pun ya ;)

      Hapus
  2. amiennnn... cerita malam pertamanya mana yenn.. moyenn? #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak juga gak papa sih... bhehehe..
      jadi masnya yang mana?

      Hapus
    2. ah besok kamu juga tau yang mana slam :p
      *benerin konde*

      Hapus
  3. Every turn we takes, every choice we choose, every consequence in front of you, know this. Nature have it's way to balance itself.

    I'm very proud with both of you.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih yaa abang, doain kita yaa ;)
      *peluuuuuk*

      Hapus
  4. Aihh so suiittt!
    Moyen ini kalau curhat mendetail banget, mellow gitu orangnya :')

    BalasHapus
  5. Dan ketika kita bersama nanti, aku ingin menjadi sebaik ibuku, tegar seperti ibumu. Inginku menjadi lebih baik dari mereka. Melanjutkan bakti kepada orang tua, tetapi juga berbakti kepadamu.

    Duh, jeru mbak :')

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')