Rabu, 21 Agustus 2013

Hospitality From the Heart

desa promsan, di kaki gunung ungaran

Malam itu beliau sedang menonton televisi di salah sudut rumahnya ketika kami datang. Dengan  badan yang sedikit tergopoh karena membawa kulkas berjalan full carrier, kami menyalami beliau.

"Ealah, nggowo opo wae to mas kok nganti ndoyong - ndoyong?"
"Biasa yung, isi kulkas..", kami tertawa sambil mengeluarkan isi tas yang berisi sembako dan kelontong.

Beliau sedikit tercengang melihat apa yang kami bawa, sembako dan kelontong yang lumayan banyak, dan cukup berat (over 18kg). Bukan masalah besar untuk kami harus berjalan menaiki bebukitan untuk menuju rumah beliau dalam waktu kurang lebih dua jam dengan membawa isi kulkas itu. Namun sepertinya beliau kasihan melihat kami berjalan sambil tergopoh - gopoh, lalu mulailah beliau ngomel..

"Matursuwun.. Matursuwun..", beliau berulang kali mengulang kata itu kepada kami.

"Kok akehmen to mas nggawakke nggo aku. Aku jane seneng mbok gemateni, tapi sesuk meneh nek rene numpak mobil wae ya mas nek gawane akeh ngene. Ora entuk mlaku, ojo mlaku.."

"Mobile sinten to yung, namung isane ngeten niki. Nggeh mlaku yo mboten nopo - nopo.."

"Yo sesuk nggo mobilmu dewe, tak dongakke sesuk nduwe mobil dewe. Truck sing gede kae, ben yen rene iso nggawakke aku luwih akeh.. Kasur iso mbok gowo barang tekan kene, ben leh turu anget, ora kademen.."

"Amin.."

"Ngerti ora mas? Iki tipi ya sing ngewehi gusti Allah. Koyok beras sing mbok gawakke iki kan yo titipanne gusti Allah to? Leres nopo mboten?  Aku matursuwun sanget. Mengko gusti Allah sing mbales ya ngger. Tak dongakke njenengan diwenehi sehat waras akas, rejekine akeh ben iso tambah nggemateni biyung'e iki. Sesuk nek rene meneh wis iso nggowo mobil dewe, ya? Nggeh?"

"Nggeh yung, nggeh.. Amin..", Kami hanya bisa mengamini, mengiyakan.
Ah biyung, bikin sendu malem - malem :')

Beliau lalu ke dapur membuatkan kami teh panas. Lalu kami ngobrol sebentar sambil menikmati cake yang saya bawa. Sayangnya biyung nggak doyan cake, setelah mencobanya beliau bilang eneg. Terus suruh saya sendiri yang habisin. Hiiihii.. Oya, beliau seneng banget waktu kami bawain potongan kuku. Hanya dua biji, tapi beliau sangat bersyukur punya potongan kuku baru. Beliau menunggu lebih dari setengah tahun untuk potongan kuku baru ini, karena kami baru sempat mengantarkannya kemaren selepas lebaran :'(

Dalam rumah sederhana itu, tidak sedikit pendaki Gunung Ungaran singgah dan bermalam. Tungku ini, adalah tungku abadi. Dimana selalu menyala dari pagi hingga pagi lagi. Menghangatkan tidak hanya badan, tapi juga hati setiap orang yang duduk di depannya. Di dapur sederhana ini, biyung membuatkan teh panas untuk orang yang singgah ke rumahnya, memasakkan nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauknya. Beliau ikhlas melakukan semua itu, tidak mengharap imbalan..




Jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Di sebuah desa terdekat dengan puncak Gunung Ungaran, berpagarkan perkebunan teh nan hijau, berlangit biru bersih tanpa awan. Udara yang selalu segar setiap waktu, air jernih mengalir disetiap sudutnya. Juga kesederhanaan penduduknya. Indah? Tentu. Dan semua itu cukup dibayar dengan listrik hanya dinyalakan malam hari selepas magrib hingga kira - kira pukul sepuluh malam. Itu juga kalau genset tidak ngadat. Saat saya datang kemaren, pukul 8 malam genset sudah padam. Juga sinyal provider telekomunikasi yang sangat buruk. Dua hal yang sepertinya sulit ditinggalkan oleh para penduduk kota seperti saya ya? :p

"Kono do maem sik, terus turu. Kono wae ya neng kloso.. Sesuk esuk tak masakke ndog, aku nduwe ndog loro (dua) nggo sampeyan mas karo mbak'e.."

Bahkan beliau pun memberikan dua buah telur ayam yang beliau punya untuk sarapan kami. Dan sebelum tidur beliau memeluk saya dengan erat, mencium pipi kanan kiri saya.. Aih :')

Esok paginya, biyung beneran goreng telur ayam itu buat kami. Karena bangun agak telat, dan jalan - jalan sebentar di bukit seberang, saya jadi nggak sempat bantuin biyung. Sarapan pagi sudah tertata rapi di kursi dapur ketika saya kembali ke rumah. Saya yang nggak doyan sayur jipan pun pagi itu makan lahap sekali. Entahlah, saya merasakan ketulusan yang luar biasa ketika menyantap masakan itu. Pengennya saya habisin semua, soalnya udah susah - susah dibuatin biyung. Hiiihiii.. Harusnya tiap dirumah saya juga harus kayak gini, sayangnya kok kadang saya masih suka pilah pilih makanan gitu :'(

bukit perkebunan teh, diatas desa

versi landscape :p

sarapan penuh cinta, hiihiihh

Selepas sarapan pun kami berpacking, sebenernya nggak boleh pulang sama biyung. Beliau meminta kami menginap satu malam lagi, tapi karena sore hari tata harus kerja, mau nggak mau kami turun pagi itu juga. Beliau kembali memeluk saya dengan erat, ciumin pipi saya, lama banget sampe saya pura - pura teriak gemes gitu biar dilepas. Hihiiihii..

"Mas, arep rene meneh kapan?", tanyanya..

"Iya yung, entar yo dua minggu lagi. Sambil tak bawain obat ya?"

Beliau pun menggangguk, kami ngobrol dan bercanda banyak sepanjang pagi itu. Sudah seperti nenek sendiri, walau jujur saja baru kali ini saya ngobrol dan berinteraksi banyak dengan beliau. Beliau sangat supel, dengan siapa saja, nggak hanya dengan kami. Sangat ramah, baik, dan sederhana. Semalam itu, saya belajar banyak hal dari beliau. Beliau juga sempat cerita kalau salah satu senior kami, nggak pernah absen membawahan body lotion buat biyung kalau berkunjung. Kata beliau, "Lucu kae mas mu yen rene mesti nggawakke henbodi nggo biyung'e, ben tangan karo sikil'e biyung'e ora busik ya? Hooh?" , terus beliau ketawa lucu gitu.. Hihiiihhhii

Menuju siang, kami berpamitan. Lagi - lagi saya dipeluk erat sama beliau. Ah, rasanya pengen tinggal lebih lama disana. Dua atau tiga hari lagi.. Disisi lain, moment kayak gini bikin kangen berat sama mbah saya yang di Madiun sana.. Hiks :'(


Saya menyebutnya hospitality from the heart. Terimakasih ya biyung, tabungan syukur saya tumpah ruah dalam kesederhanaan dan kehangatan hati setiap sudut rumah mu :')

--
Saya sempat merasakan suasana rumah yang berbeda ketika kemarin berkunjung kesana, dan ternyata benar kalau rumah biyung sudah di renovasi tahun lalu. Dibantu teman - teman mapala almamater kampus saya kalau ndak salah. Alhamdulillah ya, banyak yang gemateni biyung.. :')

12 komentar:

  1. Naik gunung terus ik XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. kecanduan mas, haha..
      mari piknik! :))

      Hapus
  2. kayanya kompor dan dapurnya gak asing hehe
    itu foto diambil dari goa jepang kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, ayo akhir bulan slams :p
      eh, iya.. itu diambil dari jalan menuju goa jepang bukan dari depan goa jepangnya 8)

      Hapus
    2. akhir bulan ya?
      minggu depan dong..
      kontak kontak langsung ke hape ya, sms/call
      lagi minim koneksi inet

      Hapus
  3. Balasan
    1. bukaaaan.. bukan bekpeker suhu..
      saya biasa ngemper kalau piknik, belum naik derajat jadi bekpeker (--")

      Hapus
  4. Jadi kangen Biyung ki.......seneng ndelok fotone Biyung ijek sehat wal afiat ngono..... (Y)

    Semoga fotokoe+kawan2 masih tertempel di bingkai tembok Biyung yaa... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. rumahnya udah di bongkar mas, banyak foto yang udah-nggak-tau-kemana ;D

      Hapus
  5. sudah mau berganti tahun, saatnya kirim kalender kesana. yippy!

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')