Sabtu, 27 Desember 2014

Untukmu, Pewepeppo..

Siang itu kita sedang duduk di bangku panjang, di teras rumahku. Berhahahihi ria membahas golongan darah seseorang dengan segala macam keunikan sifatnya. Iya, sambil mengutak atik tracking pole hadiah darimu yang tidak bisa dikunci. Bahkan kamu berniat akan mengembalikannya ke tokonya di sebuah kota kecil pada kaki Gunung Sumbing sana.

Obrolan random pun terus berlanjut, diet dan kesehatan kita bahas. Dan kamu bilang kalau ayahmu saat ini punya penyakit jantung karena terlalu sering merokok. Kamu pun kemudian bercerita bagaimana susahnya menghentikan ayahmu terus merokok. Tak semudah seperti ketika ingin nonton di bioskop tiba-tiba.

Lalu kita bercerita tentang ibu kita masing-masing. Kamu ceritakan bagaimana ibumu begitu perhatian, tak pernah absen menyodorimu semangkuk buah-buahan segar saat kamu terlihat sibuk di depan laptop dengan headset yang menempel menutupi kedua telingamu. Padahal kamu hanya sedang menonton film korea. Lalu kita tertawa bersama.

Atau ketika beliau memberimu nasehat tentang pekerjaan yang baru saja kamu tinggalkan. Bahwasanya bekerja, bukan hanya untuk mendapatkan materi saja. Kalau memang tak nyaman dengan lingkungan kerja yang 'kotor' itu, yasudah tinggalkan. Tuhan akan memberikan gantinya. Begitu, kan?

Dan masih banyak lagi yang kita ceritakan, sampai kemudian kita beralih ke depan laptop browsing ini itu untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang crafting, kardus bekas kotak susu, desain kain, hingga liburan ke Lombok. Ibumu bahkan telah mengijinkanmu untuk melakukan liburan ke Phuket yang jauh di sana, sayangnya kita masih tidak tega untuk menguras kantong untuk pergi ke sana. Dan memilih destinasi dalam negeri.

Aku masih ingat bagaimana meracunimu dengan foto yang kudapatkan dari teman-teman sepulang dari Flores dan berniat mengubah destinasi kita ke sana. Ku ceritakan bahwa satu mimpi yang belum terlaksana sejak enam tahun lalu, melakukan perjalanan darat dari Jawa ke Flores dan mengintarinya. Menyusuri setiap jengkal tanah dan lautnya, lebih dekat dengan masyarakat di sana. Tapi kamu dan suamiku, tak tergoda sedikit pun. Aku kecewa? Sedikit.

Menjelang malam, kita memutuskan untuk nonton bersama. Sebelum bergegas menuju ke bioskop, kamu masih sibuk tertawa geli saat berkirim pesan dengan kakak lelakimu yang saat itu berada di rumah. Membantuku menjual salah satu teman perjalananku, kamera kesayanganku. Kita pun tertawa di dalam bioskop karena aku membawa sebungkus mie instan mentah untuk disantap, sungguh rindu dengan 'Anak Mas'. Dan kita begitu menikmati film malam itu, lalu memutuskan untuk menikmati jagung bakar sebelum pulang.

Kita bertemu dengan temanmu yang baru saja pulang dari Lombok, kamu terlihat begitu semangat mendengarkan ceritanya. Bertanya ini itu banyak sekali, untuk menyiapkan perjalanan kita nanti. Sampai akhirnya kamu mulai gelisah, keluargamu bertanya kapan kamu pulang, dan benar-benar memastikannya padamu. Ketika ponselmu mati, kita kemudian bergegas pulang, dengan gelisah yang menyelimutimu.

Begitu sampai di rumah, kamu pun langsung bertanya pada Abang apakah ponselmu yang satu lagi terus berdering. Wajahmu makin gelisah ketika Abang mengatakan iya. Kamu bergegas menyalakan smartphone, dengan wajah makin gelisah, dan gusar. Tak ada yang mau memberitahumu apa yang terjadi, sampai kakak lelakimu menelepon dan mengabarkan kabar duka.

Aku kemudian datang menghampirimu yang menangis, tersendu sambil mengucap istighfar berulang. Awalnya aku tak berani bertanya siapa, ku pikir ayahmu, tapi ternyata ibumu. Iya, ibu yang seharian tadi kamu ceritakan, yang masih sehat hingga ajal menjelang.

Pew, aku hanya tau ini begitu berat untukmu. Aku sendiri tak bisa membayangkan betapa sulitnya menerima kenyataan bahwa Ibu telah dipanggil oleh Allah, dengan begitu tiba-tiba tanpa sakit atau apapun. Orang yang paling dekat denganmu. Pikiranku buyar, hanya terkadang berpikir, bagaimana jika aku berada di posisimu. Bisakah meneguhkan hati sepertimu?

Katamu, Ibu adalah orang yang menghidupkan suasana di rumah. Ibu yang setiap pagi membuka gorden jendela, membuka pintu, memasak makanan kesukaanmu, atau sekedar menyodorkan semangkuk buah-buahan segar untukmu. Aku hanya tau betapa dekatnya kamu dengan beliau dari begitu banyak kisah yang kamu ceritakan memang. Hanya itu.

Aku tau kamu adalah perempuan dengan hati yang sangat kuat, sama seperti ibumu. Perlahan lewatilah masa ini, karena aku tau sesungguhnya hatimu sudah ikhlas meski kadang lisanmu tak berkata yang sama. Atau mungkin sebaliknya?


Allah sayang Ibu, Pew. Allah sayang kamu. Meski sulit rasanya, ayo tetap berjalan, berlari. Berikan doa dan hadiah yang lebih indah untuk Ibu di surga sana, ya? Semoga hatimu semakin membaik, dan semakin membaik lagi :")

2 komentar:

  1. Sekian kali aku baca tulisan ini langsung terngiang malam itu moi.. Allah mengaturnya dengan indahnya, memang harus begitu, dan aku semakin kuat alhamdulillah, makasih nduk :)

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')