Minggu, 21 Juni 2015

Nongkrong bareng Itong Hiu: Semarang Sayang Hiu


"Diperkirakan sekitar seratus juta hiu mati setiap tahunnya karena manusia, salah satunya mati untuk diambil siripnya", Riyanni Djangkaru, Campaign Director Save Sharks Indonesia.

Akhir pekan lalu, saya menyempatkan hadir di rangkaian roadshow #SaveSharks: “Nongkrong bareng @itong_hiu - Semarang Sayang Hiu” yang diadakan sama Save Sharks Indonesia dan dukungan dari Greenpeace Indonesia, Marine Diving Club Kelautan UNDIP, juga Kaldera.

Saya sendiri cuman punya insight cetek di sini, taunya cuman hiu punya peranan penting dalam eksistem laut, entah peranan penting yang seperti apa saya nggak tau, heee! :|

Taukah kamu bahwa sebenarnya hiu bukanlah jenis ikan yang berbahaya? Bahkan dari sekitar 500 jenis spesies ikan hiu, hanya 0,02% hiu yang berbahaya. Hiu Paus dan Hiu Basking yang termasuk dalam jenis hiu besar saja hanya memakan plankton dan ikan-ikan kecil. Beberapa jenis hiu yang menyerang manusia (terutama para surfer) karena top predator ini melihat bentuk manusia yang mirip dengan mangsa mereka jika dari bawah.


Hiu sebagai predator teratas, hiu mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan. Tapi sayangnya, hiu mulai diburu oleh manusia untuk diperjualbelikan daging dan siripnya. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) bilang, setidaknya ada 1.145.087 ton produk hiu diperdagangkan secara global setiap tahun, meskipun hiu termasuk sebagai spesies yang populasinya terancam punah dan lambat reproduksinya. Saya pun baru tahu kalau siklus reproduksi hiu mencapai 8 - 15 tahun.


Dengan adanya pembantaian hiu dewasa untuk diambil siripnya dan penangkapan bayi hiu, populasi spesies yang mendapat julukan sebagai dokter laut ini makin terancam. Berdasarkan data FAO pada tahun 2012, Indonesia menjadi peringkat teratas dari 20 negara penangkap hiu terbesar di dunia. Hal ini disebabkan belum adanya regulasi yang mengatur terkait penangkapan hiu. Kondisi ini diperparah dengan makin maraknya penjualan bayi hiu di supermarket-supermarket.

“Bukan hanya pemerintah sebagai pembuat regulasi dan nelayan sebagai penyedia produk, kalangan konsumen juga menjadi sasaran kami, karena selama ini hal tersebut menjadi sektor yang luput dari perhatian”, kata teh Riyanni.

Banyak kepala manusia yang nggak tau kalau sebenernya hiu itu mengandung merkuri 42 kali lebih banyak dari batas aman yang bisa dikonsumsi tubuh manusia. Hal ini juga menjadi perhatian khusus, karena bisa berakibat datangnya berbagai macam penyakit. Salah satunya penyakit Minamata.

Jadi kalau semisal ikan hiu ditangkep dan berpindah di piring makan kita, gimana dengan nasib ekosistem rantai makanan di laut sana? Kepikir juga nggak gimana kalau gimana kalau tubuhmu digerogoti sama kandungan merkuri punya kadar puluhan kali dari kadar batas aman konsumsi?




Tanpa edukasi seperti ini, menurut teh Riyanni, masyarakat nggak akan menjadi konsumen yang bijak dalam memilih produk laut. Yuk, jadi konsumen yang bijak. Dengan nggak makan daging hiu, permintaan akan ikan ini jadi turun, penangkapan juga seharusnya akan berkurang kan? :)

2 komentar:

  1. Wah, masalah hiu ini ternyata serius yaa. Beberapa kali ke resto seafood juga pernah liat menu hiu. Padahal bayangin makannya aja ngeri yah. Kok pada doyan sih :|

    BalasHapus
  2. iya, nih harus semakin peduli sama keberadaan hiu. Jangan sampai punah :)

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar :')